Bengkulu, (ANTARA) - Dinas Kehutanan (Dishut) Provinsi Bengkulu mendukung program difersifikasi pangan yang dicanangkan pemerintah, untuk mengurangi ketergantungan terhadap beras.
"Pemerintah memogramkan difersifikasi pangan, dengan mengembangkan tanaman lokal sebagai pengganti beras, kami dari Dishut akan berupaya membantu menyukseskan kegiatan itu," kata Kepala Dishut Provinsi Bengkulu, Khairil Burhan di Bengkulu.
Menurut dia, dari sekian banyak tanaman lokal dan bisa dikembangkan di Bengkulu guna mendukung difersifikasi pangan itu, yang paling mungkin dan prospektif dibudidayakan di daerah itu yakni sukun.
Tanaman jenis kayu keras itu, kata dia, sangat cocok dengan kondisi tanah dan iklim di Bengkulu dan juga bisa dimanfaatkan untuk kegiatan penghijauan lahan-lahan kritis baik di dalam maupun di luar kawasan.
Khairil mengaku, telah mengusulkan anggaran untuk pengadaan 100 ribu batang pohon sukun dari APBD 2009.
"Usulan itu telah kita sampaikan, dan mudah-mudahan mendapat dukungan dari semua pihak termasuk anggota DPRD sehingga bisa direalisasikan," katanya.
Jika permintaan itu disetujui, kata dia, tanaman sukun tersebut akan dibagikan pada masyarakat secara gratis untuk ditanam di pekarangan rumah, kebun dan sebagian digunakan untuk kegiatan penghijauan di hutan lindung serta hutan produksi terbatas.
"Kita sedang menggalakan penghijauan kembali lahan kritis, jadi pengadaan pohon sukun itu selaras dengan program penghijauan disamping juga mendukung difersifikasi pangan," ujarnya.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bengkulu, Muchlis Ibrahim, secara terpisah, mengaku akan mendorong masyarakat untuk mengembangkan tanaman lokal seperti sukung, keladi dan pisang guna mendukung difersifikasi pangan.
"Difersifikasi pangan ini, merupakan program pemerintah untuk mengurangi ketergantungan terhadap beras, dan semua daerah termasuk Bengkulu harus mendukungnya," katanya.
Ia menjelaskan, selama ini masyarakat Bengkulu sudah terbiasa mengkonsumsi sukung, pisang ataupun keladi, namun sifatnya baru sebagai panganan tambahan dan penanamannya sebatas tanaman selingan atau pagar.
"Sebenarnya masyarakat sudah terbiasa mengkonsuminya dan telah menanam walau baru sebatas tanaman selingan, jadi kita tinggal mendorong agar panganan tersebut bisa dijadikan makanan pokok pengganti beras dan dikembangkan dalam skala besar," ujarnya.
"Pemerintah memogramkan difersifikasi pangan, dengan mengembangkan tanaman lokal sebagai pengganti beras, kami dari Dishut akan berupaya membantu menyukseskan kegiatan itu," kata Kepala Dishut Provinsi Bengkulu, Khairil Burhan di Bengkulu.
Menurut dia, dari sekian banyak tanaman lokal dan bisa dikembangkan di Bengkulu guna mendukung difersifikasi pangan itu, yang paling mungkin dan prospektif dibudidayakan di daerah itu yakni sukun.
Tanaman jenis kayu keras itu, kata dia, sangat cocok dengan kondisi tanah dan iklim di Bengkulu dan juga bisa dimanfaatkan untuk kegiatan penghijauan lahan-lahan kritis baik di dalam maupun di luar kawasan.
Khairil mengaku, telah mengusulkan anggaran untuk pengadaan 100 ribu batang pohon sukun dari APBD 2009.
"Usulan itu telah kita sampaikan, dan mudah-mudahan mendapat dukungan dari semua pihak termasuk anggota DPRD sehingga bisa direalisasikan," katanya.
Jika permintaan itu disetujui, kata dia, tanaman sukun tersebut akan dibagikan pada masyarakat secara gratis untuk ditanam di pekarangan rumah, kebun dan sebagian digunakan untuk kegiatan penghijauan di hutan lindung serta hutan produksi terbatas.
"Kita sedang menggalakan penghijauan kembali lahan kritis, jadi pengadaan pohon sukun itu selaras dengan program penghijauan disamping juga mendukung difersifikasi pangan," ujarnya.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bengkulu, Muchlis Ibrahim, secara terpisah, mengaku akan mendorong masyarakat untuk mengembangkan tanaman lokal seperti sukung, keladi dan pisang guna mendukung difersifikasi pangan.
"Difersifikasi pangan ini, merupakan program pemerintah untuk mengurangi ketergantungan terhadap beras, dan semua daerah termasuk Bengkulu harus mendukungnya," katanya.
Ia menjelaskan, selama ini masyarakat Bengkulu sudah terbiasa mengkonsumsi sukung, pisang ataupun keladi, namun sifatnya baru sebagai panganan tambahan dan penanamannya sebatas tanaman selingan atau pagar.
"Sebenarnya masyarakat sudah terbiasa mengkonsuminya dan telah menanam walau baru sebatas tanaman selingan, jadi kita tinggal mendorong agar panganan tersebut bisa dijadikan makanan pokok pengganti beras dan dikembangkan dalam skala besar," ujarnya.

0 komentar:
Poskan Komentar